Setelah entah berapa lama blog ini dibuat (-_-), akhirnya mampir lagi di mari si empunya.
Kali
ini saya mau berbagi pengalaman solo hiking (sok keren ya saya), ke
Gunung Kapur di daerah Ciampea. Ada yang udh pernah kesana?
Salah satu pemandangan dari bagian puncak Gunung Kapur, biasa disebut Batu Roti
|
Sebenernya
sih nggak terlalu bisa disebut gunung kali ya, mungkin bukit. Tapi
karena daerah sekitarnya cukup datar, bukit ini kelihatan menjulang
sendiri, jadi kaya gunung gitu deh (opini, abaikan).
Niat
awal naik gunung ini sih, mau bareng anak-anak komplotan saya. tapi
karena satu dan lain kata, selalu mundur (nggak jadi lah). Daripada gak
jadi mulu, akhirnya nekat juga berangkat sendiri, menimbang bahwa gunung
ini nggak terlalu tinggi dan banyak review dari bloger bahwa treknya
nggak terlalu sulit. Berbekal nekat dan informasi dari teman saya yang
(bisa dibilang) kuncen gunung ini, berangkatlah saya.
Berangkat
dari kontrakan yang berlokasi di Babakan Raya 2, Dramaga, saya naik
angkot untuk mencapai lokasi (nggak punya motor, bang. Mau beli sepeda
nggak jadi mulu, hahaha). Dari Dramaga bisa naik angkot jurusan Jasinga
atau Leuwiliang, nanti turun di depan Ind*m*rt Cikampak. Bagi yang belum
tahu, bilang aja sama sopirnya, minta berenti di situ. Bagi yang dari
luar kota (ngapain ya yang dari luar kota, jauh-jauh cuma ke Gunung
Kapur -_- ?), pokok'e kalo dari terminal Baranangsiang atau Stasiun
Bogor, naik angkot yang menuju Laladon/Bubulak (angkot bernomor 02 dan
03). Nah dari situ tinggal naik angkot menuju lokasi.
Dari
turun angkot, kita belum sampai puncak (obviously). Dari minimarket
tersebut, di sebrang bakalan ada jalan setapak yang kalau dilihat
ujungnya bakalan nyambung ke bukit kapur. Nggak pas depan minimarket itu
sih, geser kanan dikit, sebrang nasi padang (nggak penting, abaikan
lagi). ikutin aja jalan setapaknya sampai nemu percabangan jalan
kanan-kiri yang ditengahnya ada warung.
Mau
ambil kanan atau kiri tujuannya sama, bedanya jalur kiri lewat rumah
warga dan kuburan, ngambil kanan lewat lapangan. Setelah melewati
kuburan, kita mulai masuk kebun jati yang terbilang masih muda. Nanti
kelihatan saung untuk penjaga parkiran motor. Kawasan ini dikelola oleh
warga, jadi bakalan ada retribusinya. Harga masuk murah kok, (pas saya
kesana) cuma Rp. 2000,-, parkir motor Rp. 2500,-. Masih di dalam kebun
jati, jalur mulai menanjak dari parkiran.
Di
ujung tanjakan ini nanti ketemu beberapa pondok/saung lagi yang
digunakan sebagai warung. Biasanya bapak-bapak penjaganya nongkrong
disini. Ikutin jalur lagi, langsung dihadang tanjakan yang hampir 70
derajat celcius (dih)
Berhubung
udah lama nggak latihan fisik, saya banyak berhentinya, hehe. Dari
mulai tanjakan sampai puncak, nanjak terus. Tapi ada beberapa tempat
datar yang bisa dipake istirahat dulu. Jalur ini hampir cepek persen
isinya batu, tapi kalo nyeker kayaknya masih aman, kecuali kalau habis
hujan. Disepanjang perjalanan, kalau ada bunyi keresekan daun (apasih
istilahnya..), kemungkinan besar situ monyet. Eh, kelebihan 's'
(huehehehe). Kemungkinan kecilnya, temen seper-hiking-an kamu nyasar
keluar jalur.
Yakali.....
Yakali.....
Diujung
tanjakan, langsung ada kawasan datar yang biasanya dipake nge-camp sama
pegunjung. Oh iya, waktu yang saya habisin dari mulai nanjak sampai
area camp ini 20 menit. Bagi yang badannya lebih fit, mungkin bisa 10
menit. Di area ini ada beberapa batu gede yang bisa dipake duduk-duduk
atau nyari bahan buat foto profil/instagram. dari area camp, ada jalan
ke kanan menuju Batu Roti, atau ke kiri ke area gua. Kalau lurus, tembus
rerimbunan semak dan pohon, jatuh ke area tambang kapur. Iya, jatuh,
karena hampir tegak lurus di beberapa lokasi. Ini yang biasanya dipakai
latihan climbing oleh climbers. Maap, nggak ada foto area campnya, hehe.
Menuju
Batu Roti, kita bakalan ngelewatin batu-batu gede, yang berlubang dan
terbelah disana-sini. Di beberapa titik, kita kayak ngelewatin batu
setinggi 2+m yang terbelah. Jadi, hati-hati kalau nggak mau berakhir
seperti film 127 Hours (nggak separah itu juga sih), apalagi yang
sendirian kaya saya ini. Untuk sampai puncak Batu Roti, kita bakalan
ngelewatin tebing batu yang hampir tegak lurus, tapi banyak pijakannya
kok, tenang aja. Ok, kita sampai di Batu Roti :)
Sebenernya
dari sini bisa kelihatan jejeran Gede-Pangrango sampai Pancar sama
jejeran Salak-Halimun. Tapi sayang horizonnya mendung, maklum, saya
berangkatnya siang. Kalau cerah, gunung Salak bisa terlihat dengan
jelasnya. Kapan-kapan deh naik pagi-pagi biar bisa posting fotonya,
hehe.
Dari
bagian puncak ini, yang paling asik sih untuk lihat sunrise, karena
ngehadap timur. Tapi harus nginep atau berangkat subuh. Untuk sunset sih
masih bisa, tapi katanya lebih ajib kalau dari bagian lain Gunung Kapur
yang masuk kecamatan Cibungbulang, biasa disebut Puncak Galau. Lain
waktu kalau udah ke tempat itu saya posting lagi. Balik ke tempat awal,
kita bisa langsung turun atau main-main ke area gua. Saya saranin, kalo
sendiri, mendingan nggak usah. Jalurnya lumayan panjang dan bisa buat
jatuh-jatuhan, kalo parah, jatuh ke rerimbunan pohon dan semak yang
nggak tau dibawahnya ada apa.
Berhubung
berangkat dengan kenekatan, saya sih Ok (gaya Aning Hermawan). Jalurnya
rada naik turun, didominasi tanah, tapi batu banyak juga sih.
Disepanjang jalur, pohon-pohonnya sudah ditebas, sehingga membentuk
lorong, menurut penjaganya, biar nggak panas selama jalan. Lumayan jauh,
kita bakalan ketemu area datar, dengan batu-batu yang sepertinya
dibentuk. Nggak tau yah, ini batu dari jaman nenek moyang, atau dibentuk
di jaman modern ini. Jalan dikit lagi, kita ketemu Gua Peso.
Ada
peringata untuk nggak masuk gua ini, entah kenapa nggak tertulis jelas.
Tapi menurut penjaganya sih, ada aja climbers yang masuk situ, mungkin
masalah peralatan kali ya. Sebenernya ada lagi gua satu lagi, namanya
Gua Ase (nggak tau penulisan yang benernya). katanya sih sebrangan sama
Gua Peso, tapi yang saya lihat cuma dinding batu, mungkin perlu jalan
dikit lagi. Ada yang lucu dari penamaan gua ini. Nama asli Gua Ase (yang
masih belum tau penulisannya gimana), adalah Gua Tiis, yang artinya gua
yang dingin (Basa Sunda. red.). Tapi karena banyak pengunjung yang
nggak ngerti, mereka namain sendiri dengan nama Ase, mungkin dari kata
AC (air conditioner), dih...
Overall,
hiking di gunung ini lumayan gampang buat pemula. Mungkin bisa dibuat
latihan dulu sebelum naik gunung yang sebenernya. Pemandangannya juga
cukup ajib dilihat dari lokasinya yang deket kota. Kawasan ini juga
sering dipakai buat kemping-kempingan gitu sama anak setingkat SD-SMP.
Tapi harus booking dulu, biar nggak rame. Segitu aja ya sharing
pengalamannya, lebih banyak curhat nggak sih gw? hahaha








