Minggu, 27 September 2015

Menggalau Di Puncak Galau ( Bukit Kapur / Gunung Sinala, West Side, Cibungbulang)

Meneruskan petualangan (halah bahasanya) di Bukit Kapur, lanjutan dari puncak batu Roti yang udah lama banget gw datengin, huehehe.


Betewe, baru tau kalau nama kunonya bukit kapur ini itu Gunung Sinala, terus nama resminya (kayaknya) Gunung Cibodas. Bisa sambil baca disini tentang sejarah arca yang dulu pernah ditemuin di Bukit Kapur.


Lanjut ke kisah perjalanan gw dari kost-an menuju lokasi, cusss....


Semua mode transportasi bisa dipake untuk ke lokasi, dari motor, mobil, taksi, sepeda, becak, truk (nggak ding), sampe jalan kaki. tapi seperti biasa, gw naik angkot. Selain nggak punya kendaraan pribadi (dih, curhat...), tujuannya biar para backpacker gampang untuk nyari rutenya, hahahaha.


Sama kaya puncak Batu Roti, angkot yang bisa ditumpangi (setelahnya bayar ya) angkot trayek Lalado-Jasinga, or Cipanas, or Leuwiliang. Mengikuti patokan dari berbagai blog, bilang ke mamang supirnya minta turun di SMK Pandu.

Sebenernya ada rute lainnya (yang gw tau karena lupa jalan balik, hahaha), lewat jalan disamping restoran yang lumayan gede. Dan sayangnya gw lupa nama rumah makan itu.... Dan gw juga lupa foto tempat turun di SMK Pandu itu, huahahaha.


Pokoknya, kalau udah dibilang sama mamang supir udah sampe, ya tinggal turun dan bayar (lah...). Dari situ di sebrang ada gapura gitu. Nyebrang dah. Nah, dari situ kita jalan kaki sejauh kurang lebih 2 km. Jauh? Nggak juga, dibanding sama manjat ke puncaknya. Dari gapura itu kita jalan ngelewatin rumah warga, rada-rada turun naik lembah, habis lewat jembatan, belok kiri.


Dari belok kiri itu, jalannya jalan aspal. patokannya kalo jalan aspal itu udah warna-warni (udah ada garis-garis kayak di jalan raya gitu deh, padahal di jalan desa, haha). Terus nanti kita lewat gapura dengan spanduk selamat datang di daerah Wisata. Jangan kelewat, disebelah kiri ada pos pendaftaran yang gabung sama tempat penyewaan alat camp. Gw sendiri sih kelewat, soalnya nggak keliatan kalo itu pos pendaftaran. kalau yang bawa kendaraan pribadi, tanyain tempat parkirannya disini ya.


Lanjut, ternyata pos pendaftaran ini sampe gerbang masuk ke Bukit Kapur itu masih jauh, hampir-hampir 1 km gitu deh. Lewatin lapangan tanah merah dan (lagi) hutan jati. Mulai masuk hutan jati, jalan mulai  nanjak, tapi jangan khawatir, itu belum apa-apa, huahahaha.

Nanti kita ketemu lagi sama pos gitu, yang sampingnya ada warung. bagi yang kelewatan pos tadi, bisa daftar disini. Dari sini semuanya dimulai....

Treknya gila-gilaan. Nanjak terus, hampir nggak ada bonus. Kalau mau istirahat, ya duduk di batu-batu karang yang rada gede.
Tanjakan dilihat dari atas (turunan atuh ya..). Tenang, udah ada webbing sama tambangnya
Dinding karang disamping trek. Muterin dinsing ini treknya

Gw butuh sekitar 25 menit dari pintu masuk sampe daerah puncak. Lumayan lah, dengan badan gempal ini (sampe atas ngos-ngosan).
Plang di bagian puncak. Sayang banyak vandalisme.

Di atas ada dibagi beberapa area. Ada area campground, bagian Puncak Galau yang terbuka, area gua, sama area Karang gantung.

Ini bagian puncak yang dikenal sebagai Puncak Galau :')
View dari puncak.

Cuma 324 mdpl sih, tapi kemiringannya itu loh..
Ngerti kan, kenapa di plang ada peringatan jangan ndiriin tenda di puncak? Yap, daerahnya terbuka, jadi auratnya kelihatan. Sorry salah fokus....

Di daerah puncak ini lumayan tinggi sama nggak ada pohon pelindung. Asumsi gw sih biar resiko sentuh-sentuhan sama geledek berkurang. Sama ada kemungkinan angin gede ngebawa tenda sama seisi-isinya.

Dan seperti biasa, karena gw jalannya siang-siang, mendung udah nutupin horizon lagi. Padahal jelas banget Gunung Salak kalau dilihat dari sini.


Perlu jalan lumayan jauh untuk ke Karang Gantung
Kebayang jauhnya menuju Karang Gantung? Gw awalnya nggak tau kalau itu Karang Gantung, foto ini diambil waktu udah balik dari sana. Menuju Karang gantung, kita ngelewatin area gua dulu.

Plang penunjuk Gua Lenglang

Ada beberapa gua disini, tapi cuma sempet foto plang yang ini. Dan gw nggak ke daerah guanya, karena setelah belok ke arah gua, ternyata treknya nurun, males :v :v 

Lanjut jalan terus, treknya ngelewatin batu-batu karang yang lumayan tajem. Kalau nggak punya ilmu kebal tingkat dasar, sangat tidak disarankan nyeker..

Nggak ada niat promosi merk sepatu. Tapi kalo ada yang ng-endorse, ya silahkan, haha

Setelah lompat sana, lompat sini di terjalnya batu karang (lebay bang..), nyampe di Karang Gantung.
Karang Gantung
Karang Gantung Closeup


Jalur naik-turun Karang Gantung

Jadi Karang Gantung itu, batu karang yang posisinya sebagian besar ngegantung ke arah tebing. Lumayan gede sih dan di tempat terbuka. Silahkan foto-foto bagi yang mau, tapi jangan di atas karangnya ya, salah-salah malah jatuh tuh karang. Kalo gw mah cukup foto ini aja.


Sepatu Gantung

Sebenernya lanjut dari Karang Gantung, masih ada trek lagi, ke arah gua lainnya, dan ada camp ground kecil. Tapi karena udah jalan jauh nggak ketemu apa-apa, gw balik lagi ke Puncak Galau. Sampe camp ground, udah rada sore, tapi sayang mendung, foto sunset cuma kayak gini, hahaha.

Sunset-sunsetan





Untuk jalan balik, hati-hati turunnya. Apalagi kalau hujan, licin banget kayaknya. Keseluruhan, main ke tempat ini asik, yang penting pinter milih hari yang cerah aja. Dan kalau mau dapet view yang bagus, disaranin pagi-pagi aja, atau ngecamp dari malemnya. Tiket masuknya Rp. 5000,-, udah dikelola sama pemuda setempat, sampe dibuatin tiket juga, hehehe.

Untuk  referensi foto-foto di puncak yang lebih banyak, bisa baca di Jalan Pendaki (numpang link, Bang Acen, hehe)

Udah, gitu aja cerita gw, lagi nyari inspirasi tempat lainnya untuk dikunjungin
Tribute to AGH 47


Sabtu, 13 Juni 2015

Solo Hiking Bukit Kapur (North Side), Ciampea

Setelah entah berapa lama blog ini dibuat (-_-), akhirnya mampir lagi di mari si empunya.
Kali ini saya mau berbagi pengalaman solo hiking (sok keren ya saya), ke Gunung Kapur di daerah Ciampea. Ada yang udh pernah kesana?
Bagian puncak Gunung Kapur
Salah satu pemandangan dari bagian puncak Gunung Kapur, biasa disebut Batu Roti

Sebenernya sih nggak terlalu bisa disebut gunung kali ya, mungkin bukit. Tapi karena daerah sekitarnya cukup datar, bukit ini kelihatan menjulang sendiri, jadi kaya gunung gitu deh (opini, abaikan).
Niat awal naik gunung ini sih, mau bareng anak-anak komplotan saya. tapi karena satu dan lain kata, selalu mundur (nggak jadi lah). Daripada gak jadi mulu, akhirnya nekat juga berangkat sendiri, menimbang bahwa gunung ini nggak terlalu tinggi dan banyak review dari bloger bahwa treknya nggak terlalu sulit. Berbekal nekat dan informasi dari teman saya yang (bisa dibilang) kuncen gunung ini, berangkatlah saya.

Berangkat dari kontrakan yang berlokasi di Babakan Raya 2, Dramaga, saya naik angkot untuk mencapai lokasi (nggak punya motor, bang. Mau beli sepeda nggak jadi mulu, hahaha). Dari Dramaga bisa naik angkot jurusan Jasinga atau Leuwiliang, nanti turun di depan Ind*m*rt Cikampak. Bagi yang belum tahu, bilang aja sama sopirnya, minta berenti di situ. Bagi yang dari luar kota (ngapain ya yang dari luar kota, jauh-jauh cuma ke Gunung Kapur -_- ?), pokok'e kalo dari terminal Baranangsiang atau Stasiun Bogor, naik angkot yang menuju Laladon/Bubulak (angkot bernomor 02 dan 03). Nah dari situ tinggal naik angkot menuju lokasi.
Dari turun angkot, kita belum sampai puncak (obviously). Dari minimarket tersebut, di sebrang bakalan ada jalan setapak yang kalau dilihat ujungnya bakalan nyambung ke bukit kapur. Nggak pas depan minimarket itu sih, geser kanan dikit, sebrang nasi padang (nggak penting, abaikan lagi). ikutin aja jalan setapaknya sampai nemu percabangan jalan kanan-kiri yang ditengahnya ada warung.
Mau ambil kanan atau kiri tujuannya sama, bedanya jalur kiri lewat rumah warga dan kuburan, ngambil kanan lewat lapangan. Setelah melewati kuburan, kita mulai masuk kebun jati yang terbilang masih muda. Nanti kelihatan saung untuk penjaga parkiran motor. Kawasan ini dikelola oleh warga, jadi bakalan ada retribusinya. Harga masuk murah kok, (pas saya kesana) cuma Rp. 2000,-, parkir motor Rp. 2500,-. Masih di dalam kebun jati, jalur mulai menanjak dari parkiran.

Di ujung tanjakan ini nanti ketemu beberapa pondok/saung lagi yang digunakan sebagai warung. Biasanya bapak-bapak penjaganya nongkrong disini. Ikutin jalur lagi, langsung dihadang tanjakan yang hampir 70 derajat celcius (dih)
Tanjakan dilihat dari atas
Tanjakan dilihat dari atas
Berhubung udah lama nggak latihan fisik, saya banyak berhentinya, hehe. Dari mulai tanjakan sampai puncak, nanjak terus. Tapi ada beberapa tempat datar yang bisa dipake istirahat dulu. Jalur ini hampir cepek persen isinya batu, tapi kalo nyeker kayaknya masih aman, kecuali kalau habis hujan. Disepanjang perjalanan, kalau ada bunyi keresekan daun (apasih istilahnya..), kemungkinan besar situ monyet. Eh, kelebihan 's' (huehehehe). Kemungkinan kecilnya, temen seper-hiking-an kamu nyasar keluar jalur.
Yakali.....

Diujung tanjakan, langsung ada kawasan datar yang biasanya dipake nge-camp sama pegunjung. Oh iya, waktu yang saya habisin dari mulai nanjak sampai area camp ini 20 menit. Bagi yang badannya lebih fit, mungkin bisa 10 menit. Di area ini ada beberapa batu gede yang bisa dipake duduk-duduk atau nyari bahan buat foto profil/instagram. dari area camp, ada jalan ke kanan menuju Batu Roti, atau ke kiri ke area gua. Kalau lurus, tembus rerimbunan semak dan pohon, jatuh ke area tambang kapur. Iya, jatuh, karena hampir tegak lurus di beberapa lokasi. Ini yang biasanya dipakai latihan climbing oleh climbers. Maap, nggak ada foto area campnya, hehe.
Menuju Batu Roti, kita bakalan ngelewatin batu-batu gede, yang berlubang dan terbelah disana-sini. Di beberapa titik, kita kayak ngelewatin batu setinggi 2+m yang terbelah. Jadi, hati-hati kalau nggak mau berakhir seperti film 127 Hours (nggak separah itu juga sih), apalagi yang sendirian kaya  saya ini. Untuk sampai puncak Batu Roti, kita bakalan ngelewatin tebing batu yang hampir tegak lurus, tapi banyak pijakannya kok, tenang aja. Ok, kita sampai di Batu Roti :)
Tebing dilihat dari bawah
Tebing dilihat dari bawah
Tebing dilihat dari atas
Tebing dilihat dari atas
Area tambang kapur
Area tambang kapur
Bagian tertinggi Batu Roti
Bagian tertinggi Batu Roti
Tribute to Edelweiss AGH 47 :)
Tribute to Edelweiss AGH 47 :)
Sebenernya dari sini bisa kelihatan jejeran Gede-Pangrango sampai Pancar sama jejeran Salak-Halimun. Tapi sayang horizonnya mendung, maklum, saya berangkatnya siang. Kalau cerah, gunung Salak bisa terlihat dengan jelasnya. Kapan-kapan deh naik pagi-pagi biar bisa posting fotonya, hehe.
Dari bagian puncak ini, yang paling asik sih untuk lihat sunrise, karena ngehadap timur. Tapi harus nginep atau berangkat subuh. Untuk sunset sih masih bisa, tapi katanya lebih ajib kalau dari bagian lain Gunung Kapur yang masuk kecamatan Cibungbulang, biasa disebut Puncak Galau. Lain waktu kalau udah ke tempat itu saya posting lagi. Balik ke tempat awal, kita bisa langsung turun atau main-main ke area gua. Saya saranin, kalo sendiri, mendingan nggak usah. Jalurnya lumayan panjang dan bisa buat jatuh-jatuhan, kalo parah, jatuh ke rerimbunan pohon dan semak yang nggak tau dibawahnya ada apa.
Berhubung berangkat dengan kenekatan, saya sih Ok (gaya Aning Hermawan). Jalurnya rada naik turun, didominasi tanah, tapi batu banyak juga sih. Disepanjang jalur, pohon-pohonnya sudah ditebas, sehingga membentuk lorong, menurut penjaganya, biar nggak panas selama jalan. Lumayan jauh, kita bakalan ketemu area datar, dengan batu-batu yang sepertinya dibentuk. Nggak tau yah, ini batu dari jaman nenek moyang, atau dibentuk di jaman modern ini. Jalan dikit lagi, kita ketemu Gua Peso.
Gua Peso
Gua Peso
Bagian dalam Gua Peso
Bagian dalam Gua Peso
Ada peringata untuk nggak masuk gua ini, entah kenapa nggak tertulis jelas. Tapi menurut penjaganya sih, ada aja climbers yang masuk situ, mungkin masalah peralatan kali ya. Sebenernya ada lagi gua satu lagi, namanya Gua Ase (nggak tau penulisan yang benernya). katanya sih sebrangan sama Gua Peso, tapi yang saya lihat cuma dinding batu, mungkin perlu jalan dikit lagi. Ada yang lucu dari penamaan gua ini. Nama asli Gua Ase (yang masih belum tau penulisannya gimana), adalah Gua Tiis, yang artinya gua yang dingin (Basa Sunda. red.). Tapi karena banyak pengunjung yang nggak ngerti, mereka namain sendiri dengan nama Ase, mungkin dari kata AC (air conditioner), dih...
Overall, hiking di gunung ini lumayan gampang buat pemula. Mungkin bisa dibuat latihan dulu sebelum naik gunung yang sebenernya. Pemandangannya juga cukup ajib dilihat dari lokasinya yang deket kota. Kawasan ini juga sering dipakai buat kemping-kempingan gitu sama anak setingkat SD-SMP. Tapi harus booking dulu, biar nggak rame. Segitu aja ya sharing pengalamannya, lebih banyak curhat nggak sih gw? hahaha
See you in the next adventure!
See you in the next adventure!